Bunda Sayang

Aliran Rasa Game Level 6 : Math Around Us

16

Rasanya memang akan berbeda matematika logis yang ditemukan oleh orang dewasa dengan anak-anak. Namun tentunya pemahaman matematika kita, sebagai manusia, makin hari makin meningkat. Matematika itu sendiri tidak hanya sekedar tentang hitung-hitungan, namun juga sekaligus membantu kita dalam hal problem solving dalam kehidupan sehari-hari.

Matematika juga tentang kesepakatan, 1+1 = 2 (kata Sudjiwo Tejo). Semua orang, dimanapun sepakat bahwa 1 ditambah 1 adalah 2. Namun contoh penerapan matematika dalam ranah kesepakatan pada kehidupan saya dan si mas adalah kesepakatan dalam hal gadget time. Saya akan lebih memanfaatkan gadget time hanya ketika si mas masuk kerja. Selebihnya HP saya akan lebih sering di atas meja. Kan kasian juga ya kalau si mas ditinggal mainan HP. Karena si mas ga ngapa-ngapain dengan HP nya kecuali main game, maka si mas boleh main game asalkan jangan terlalu lama. Saya memberikan si mas waktu main game sebagai kompensasi karena dia telah bekerja keras seharian.

Matematika juga tentang kejujuran (kata Cak Nun). Tentu menjadi sangat logis bahwa dalam kehidupan kita harus jujur walaupun kadang jujur itu pahit (uhuk). Namun dalam berumah tangga, tentunya saya sama si mas sudah tidak memiliki privasi. Maksudnya bagaimanapun sebagai sepasang suami istri kan kita harus jujur satu sama lain tentang apapun itu yang ada dipikiran kita, tentang apa yang kita rasa. Tidak ada yang perlu disembunyikan. Sehingga kejujuran itu sendiri harus diciptakan dari diri sendiri, yang tentunya harus ada implementasinya.

Matematika juga tentang keikhlasan. Saya belajar ini ketika saya mencoba menerapkan metode Konmari. Mbak Marie mengajak saya untuk meludeskan barang-barang yang sebenarnya jarang -dipake. Sehingga ketika saya akan pindahan dari Surabaya ke Sidoarjo. Saya mensortir barang-barang yang sekiranya jarang dipakai sekalipun sebenarnya punya kenangan. Tapi dari pada tidak dipakai sama sekali mending kasi orang ya. Sehingga saya mendapati 1 kardus guede banget barang-barang yang tidak saya pakai yang akhirnya saya berikan ke supir pickup yang mengantar saya.

Saya menemukan matematika paling menyenangkan ketika saya merajut. Tidak hanya pada saat merajutnya, dimulai dari desain hakpennya, cara menggulung benangnya dan juga pola-polanya. Hakpennya di desain sedemikian rupa untuk mempermudah baik saat menusukkan hakpen, mengaitkan benang, juga mengeluarkan hakpen dan benang dari rantai. Lalu benang rajut digulung sedemikian rupa untuk mempermudah saat merajut agar benang rajut tetap ditempat saat menarik benang. Tentu tergantung cara narik benang juga lah ya. Kalau nariknya terlalu kasar ya benangnya lari lah. Hahaha, *garing euy*. Kemudian ketika memulai merajut. Jumlah rantai tergantung dari jenis benda yang akan kita buat.

Tentunya belajar matematika dengan anak pastinya berbeda dong ya, yang harus disesuaikan dengan porsi mereka sendiri.

Lalu Bagaimana Saya Harus Mengajarkan Matematika Kepada Anak Saya Nanti?

Saya kalau pulang mudik ke Lombok biasanya bantu jaga kiosnya mamak. Pembeli yang datang tentunya tidak hanya orang dewasa, sering kali juga anak kecil yang biasanya membeli makanan kecil atau es. Biasanya kalau yang datang belanja adalah anak kecil sering kali saya tanyakan,”Kalau uangnya 5000, terus belanjanya 3000, kembaliannya berapa hayoo?”. Wkwkwk.

Tentunya saya tanya demikian juga lihat-lihat lah ya. Jika si anak tersebut sudah usia SD, pertanyaan saya pasti seperti itu. Namun jika si bocah masih playgroup atau TK biasanya saya hanya tanyakan nominal uangnya berapa. Atau mungkin saya ajak menghitung jumlah jajan yang dia beli ketika dimasukkan ke dalam kantong plastik. Setelah si bocah menjawab saya berikan tepuk tangan dan mengatakan “Horeee..”. Si bocah pasti ikutan bilang hore sambil tepuk tangan gembira gitu.

Nah dari pengalaman saya tersebut, saya memperkenalkan matematika seusia porsinya. Begitu juga pengenalan dan belajar matematika bersama anak saya nantinya sesuai dengan usianya. Mungkin ketika anak saya masih usia 1 tahun misalnya, mungkin saya akan mengajaknya berhitung 1,2,3 sesuai kegiatannya. Misal nih saya ngajakin anak saya main di taman terus ada jalan setapak bentuknya bundar dan saya memperkenalkan bahwa jalan setapak tersebut bentuknya bundar “ih ada banyak ya dek. 1,2,3,4,5 (misal). Whoo, ada 5 dek”. Itu misal!

Tentu si anak belum tahu bahwa dia sedang di ajak berhitung. Tapi paling tidak dia di perkenalkan terlebih dahulu mengenai 1,2,3 secara verbal. Nggak harus langsung secara visual, “oh angka 1 itu kayak gini, angka 2 kayak gini”. Pengenalan bentuk angka tentunya ada waktunya. Tapi nanti.

atau mungkin misalnya ngajakin si adek berkebun. “Lihat nih dek daunnya bagus ya?! Ih ada yang bentuknya bundar, lonjong, runcing pada bagian ujungnya. Ternyata daun yang ini lebih panjang dari yang ini ya dek (Sambil menunjukkan dan menyandingkan daun tersebut. Dan tentunya menunjukkan mana yang panjang dan mana yang pendek).

Yah, pada intinya. Selama materi matematika logis di level 6 ini menyadarkan saya bahwa matematika itu nggak nyeremin karena matematika selalu ada dimana-mana. Selain itu kita bisa belajar matematika dari mana pun. Bahkan dari hal yang sangat sederhana. Dan tentunya matematika harus sesuai dengan usia si anak.

Matematika bukan tentang suka atau tidak suka. Tapi bagaimana cara memperkenalkan dan mengajarkannya kepada anak agar jadi lebih menyenangkan. 

Nggak berasa ngalirin rasa sampai panjang lebar gini. Intinya gitu lah ya..LOL

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s