Kelayapan

Candi Pari dan Candi Sumur untuk Mengenang Sepasang Suami Istri yang Arif dan Bersahaja

Seperti biasa pada hari Minggu pagi, saya dan si Mas pergi ke Alun-Alun Sidoarjo untuk mencari sarapan, main badminton dan juga menonton Street Drum Sidoarjo tampil. Sesuai dengan rencana, sepulang dari Alun-Alun Sidoarjo, kami pergi berkunjung ke Candi Pari dan juga Candi Sumur. Kedua candi tersebut berada di Jalan Purbakala, Desa Candipari, Porong, Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur. Saya pikir kedua candi tersebut berada di area yang luas dan jauh dari permukiman, ternyata dugaan saya salah karena kedua candi berada di kawasan permukiman warga. Selain itu kedua candi juga dekat dengan pabrik Lapindo.

Tidak sulit untuk mencapai kedua candi tersebut, kan sudah ada Google Maps. Gampang aja lah ya untuk pergi ke sana. Kami sampai di Candi Pari sekitar jam 8 lewat dan ternyata sampai disana sedang diadakan pengobatan gratis di pendopo yang terletak persis di depan Candi Pari. Karena kita sungkan untuk melewati orang-orang yang sedang mengantri. Sehingga kami melipir ke Candi Sumur yang terletak tidak jauh dari Candi Pari, jalan kaki pun bisa.

Namun sayangnya, di Candi Sumur tidak ada tempat parkir motor. Sehingga kami pun parkir di depan rumah seorang warga yang terletak persis sebelah kanan Candi. Di Candi Pari pun sebenarnya tidak ada parkir khusus. Akan tetapi masih bisa menggunakan bahu jalan ataupun lahan kosong yang terletak di samping kuburan yang berada di seberang Candi Pari.

Asal Usul Candi Pari dan Candi Sumur

PhotoGrid_1512891382074.jpg Pada jaman dahulu terdapat seorang janda yang tinggal di Desa Ijingan. Janda tersebut adalah adik daru seorang tua yang bernama Kyai Gede Penanggungan yang hidup di pegunungan. Kyai Gede Penanggungan memiliki 2 orang putri yang diberi nama Nyai Loro Walang Sangit dan Nyai Loro Walang Angin. Sedangkan si janda memiliki seorang putra bernama Jaka Walang Tinunu yang tampan dan hormat kepada ibunya.

Pada suatu hari Jaka Walang Tinunu menanyakan kepada ibunya siapakah ayahnya, namun ibunya tidak mau menjawab dan berkata “Kamu tidak memiliki ayah namun Kyai Gede Penanggungan adalah kakak saya”. Kemudian Jaka Walang Tinunu meminta ijin kepada ibunya untuk membuka hutan sebagai tempat tinggal dan juga menggarap sawah. Permintaan tersebut dikabulkan oleh ibunya dan berangkatlah ia dengan kedua temannya yaitu Satim dan Sabalong.

Pada suatu malam kedua teman Jaka Walang Tinunu dengan sepengetahuannya memasang Wuwu di kali Kedung Soko dan keesokan harinya terdapat seekor ikan Kotok yang dinamakan Deleg. Betapa gembiranya Sabalong karena mendapatkan ikan. Namun ketika ikan tersebut hendak di potong untuk di goreng, ajaibnya ikan tersebut dapat berbicara seperti manusia. Ternyata ikan tersebut dulunya memang seorang manusia yang bernama Sapu Angin namun mendapat kutukan oleh pertapa Gunung Pamucangan karena dosanya. Waktu mendengar riwayat Deleg, terharulah Jaka Walang Tinunu dan berkata “Barang siapa yang berasal dari manusia kembalilah menjadi manusia” dan seketika ikan tersebut berubah menjadi manusia dan diberi nama Jaka Pandelegan.

Kemudian mereka bersama-sama membuka tanah dan setiap hari mengolah lahan pertanian tersebut. Namun karena keadaan mereka yang sangat miskin, mereka tidak memiliki apa-apa untuk keperluan menggarap sawah. Namun Jaka Walang Tinunu tiba-tiba teringat dengan Kyai Gede Penanggungan, kakak dari ibunya. Namun karena ia takut untuk menyampaikan maksud hatinya kepada Kyai Gede Penanggungan untuk meminta bibit, sehingga ia menyampaikan niatnya melalui Nyi Gede. Namun Kyai Gede Penanggungan tidak percaya jika bibit tersebut akan digunakan untuk bersawah.

Jaka Walang Tinunu dan Jaka Pandelegan kecewa karena permohonannya tidak dikabulkan melainkan mereka hanya diberikan Mendang yang apabila disebar tidak akan bisa tumbuh. Namun karena kedua putri Kyai Gede menyukai kedua pemuda yang tampan dan sopan tersebut, sehingga mendang yang diambil, dicampurkannya dengan bibit kemudian diberikan kepada Jaka Walang Tinunu dan Jaka Pandelegan.

Setelah mendapatkan mendang 1 karung, kemudian mereka kembali ke Kedung Soko untuk menebarkan mendang tersebut. Ternyata mendang yang mereka tebar menuai hasil yang sangat bagus. Kemudian mereka kembali ke Kyai Gede untuk menyampaikan keberhasilannya tersebut dan memohon ijin agar kedua putrinya membantunya untuk menanam padi. Namun ditidak dikabulkan oleh Kyai Gede. Akan tetapi kedua putrinya sangat menginginkan untuk ikut dengan Jaka Walang Tinunu dan Jaka Pandelegan. Namun kemudian kedua putri Kyai Gede pergi diam-diam untuk mengikuti mereka.

Waktu tanaman berusia 45 hari, mereka mengalami kekurangan air dan Jaka Walang Tinunu meminta Jaka Pandelegan untuk memeriksa air. Singkat cerita, Jaka Pandelegan dibantu oleh Nabi Kilir yang merupakan pelindung semua air. Nabi Kilir berpesan kepada Jaka Pandelegan untuk mengadakan selamatan jika hasil padinya baik.

Setelah itu hasil padi dari kedua pemuda tersebut sangat baik sehingga banyak orang datang untuk memotong padi. Pada saat yang sama, kerajaan Majapahit mengalami gagal panen. Sang Prabu mendengar ada seorang arif di Kedung Soko yang memiliki hasil panen yang berlimpah. Sehingga ia memerintahkan patihnya untuk meminta penyerahan  padi dan dibawakan dengan perahu lewat sungai. Akhirnya Jaka Walang Tinunu memberikan hasil panennya kepada utusan Kerajaan Majapahit. Singkat cerita ternyata Jaka Walang Tinunu ternyata adalah anak dari Sang Prabu Brawijaya. Kemudian memerintahkan patihnya untuk menjemput Jaka Walang Tinunu dan istri untuk menghadapnya.

Selanjutnya Sang Prabu mengutus untuk juga memanggil Jaka Pandelegan beserta istrinya dengan maksud untuk menaikkan pangkat derajatnya. Jika mereka tidak bersedia, mereka harus dipaksa namun tanpa cidera sedikitpun. Mendengar kabar tersebut, Jaka Pandelegan dan istri telah sepakat untuk tidak menerima tawaran tersebut sekalipun dipaksa.

Kemudian Jaka pandelegan hilang tanpa bekas. Sepeninggalan sang suami, pada saat Nyai Loro Walang Angin yang hendak mengambil air berpapasan dengan Patih dan sewaktu akan ditangkap ia berkata “Biarlah saya terlebih dahulu mengisi kendi di sebelah barat daya penangan itu”. Dan saat tiba di sebelah timur sumur, hilanglah istri Jaka Pandelegan.

Setelah suami istri tersebut menghilang, Patih melaporkan peristiwa tersebut kepada Sang Prabu Brawijaya. Mendengar peristiwa tersebut, Baginda kagum atas kecekatan sepasang suami istri tersebut. Maka didirikanlah candi untuk mengenang hilangnya sepasang suami istri tersebut yang diberikan nama Candi Pari dan Candi Sumur. Lokasi Candi Pari adalah tempat menghilangnya Jaka Pandelegan, sedangkan Candi Sumur adalah tempat menghilangnya Nyai Walang Loro Angin.

PhotoGrid_1512891470709.jpg

Kedua candi tersebut didirikan sekitar tahun 1371 M pada masa pemerntahan Prabu Hayam Wuruk.

Kondisi Fisik Candi Pari dan Candi Sumur

PhotoGrid_1512891587876

Candi Pari dan Candi Sumur dikelola dan dirawat oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Sidoarjo. Kedua candi memiliki taman yang bagus dan rapi. Namun kondisi fisik dari kedua candi sudah mulai mengalami degradasi. Terutama pada candi sumur. Pada bagian badan candi sempat mengalami kemiringan, sehingga dibuatkan tiang penyangga dari beton untuk menjaga bentuk dari badan candi. Sedangkan Candi Pari terlihat lebih kokoh.

IMG_20171210_084415.jpg
Tiang penyangga di Candi Sumur

Pada Candi Sumur terdapat sumur pada bagian tengah candi yang dulunya memiliki kedalaman 12 meter namun kemudian di urug. Hal ini adalah untuk keamanan pengunjung terutama anak-anak.

****

Kebersahajaan hidup dari sepasang suami istri tersebut saya rasa dapat kita jadikan pelajaran untuk kehidupan modern saat ini.

Advertisements

2 thoughts on “Candi Pari dan Candi Sumur untuk Mengenang Sepasang Suami Istri yang Arif dan Bersahaja

  1. makasih cerita di balik candi ini, aku suak abnget cerita2 yang berlatar belakan candi, selalu ada cerita yang menarik dan mengandung makna

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s