Bunda Sayang

Jalan Kaki atau Naik Motor?

10

Semenjak nikah saya lebih banyak menghabiskan waktu dikosan aja sama si mas. Kalau si mas pergi kerja ya sendirian. Selama disini paling cuma berinteraksi sama mbah-mbah yang tinggal depan kosan dan ibu kios. Itupun juaraaanngg banget. Lebih sering di kamar terus. Apalagi saya tidak bekerja, emang udah memutuskan nggak kerja sih. Bukan berarti saya kerjaannya tidur muluk. Biasanya kalau tidak baca buku ya merajut atau mungkin mengerjakan pekerjaan dari rekan lama yang masih belum selesai.

Nah semenjak nikah juga saya jarang banget olahraga. Timbunan lemak rasanya makin bertambah, jadi penasaran sekarang berat badan berapa. Jadi untuk mengakali diri yang udah jarang banget olahraga, saya memutuskan untuk berjalan kaki kalo cuma sekedar belanja ke indomar*t misalnya. Jarak antara itu swalayan dari kosan saya nggak deket lho. Kalo jalan kaki lumayan bikin kringetan dan kalau dihitung-hitung untuk pergi saja lebih dari 150 langkah, belum baliknya. Lumayan banget kan?!

Tapi kadang juga galau semisal keluar belanja jalan kaki, karena motor saya jarang dipakai dan sampai sekarang masih belum dikirim ke Lombok. Kan sayang-sayang kalau motornya tidak dipakai karena bisa merusak mesin. Walaupun cuma sekedar dipanasin, tapi tetap lah ya.

Di satu sisi kalau saya lebih sering jalan kaki tentu dampaknya pada kesehatan fisik saya. Selain itu juga saya lebih bisa menikmati lingkungan sekitar. Dibandingkan dengan naik motor, cuma duduk, ngegas dan fokus saat berkendara. Tapi kalau tidak dipakai ya kasian mesin motornya. Heuheuheu..

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s