Bunda Sayang

Game Level 6 : Sabda Alam

7

Musim hujan sudah datang, ada yang mengeluh dengan kehadirannya namun ada juga yang berbahagia. Namun pasti setiap rintiknya adalah rahmatNya, insyaa Allah. Akan tetapi akhir-akhir ini berita banjir dan bahkan juga longsor terjadi di beberapa daerah di Indonesia. Menurut beberapa artikel online dan berita TV menyatakan bahwa cuaca ekstrem ini karena siklon tropis cempaka. Saya juga baru pertama kali mendengarkan nama ini dan kurang tahu pasti seperti apa siklon ini. Yang jelas, siklon tropis cempaka ini menyebabkan gelombang air laut meningkat, angin kencang, banjir dan longsor.

Berita tentang bencana alam ini tidak hanya sekedar banjir dan juga tanah longsor, namun juga saat ini terjadi erupsi gunung Agung di Bali. Sudah sejak beberapa bulan lalu gunung Agung sudah mulai mengalami erupsi. Dan beberapa hari lalu sudah mulai meningkat statusnya dan abu yang membumbung semakin tebal. Pada waktu lihat di berita, ternyata abunya juga sampai ke Lombok. Wah, saya langsung menghubungi orangtua disana. Alhamdulillah, mereka sehat semua.

Dengan terjadinya bencana alam tersebut sebenarnya kita harus bersyukur atau bersedih sih?

Tadi saya habis mantengin timeline IG. Eh muncul postingannya Sudjiwo Tedjo tentang bencana alam yang sebaiknya disebut dengan sabda alam. Pada foto yang beliau unggah, beliau menyatakan bahwa “Mari sopan kepada alam. Mari tidak menyebut erupsi gunung, banjir, longsor dll sebagai bencana. Itu toh cuma cara alam mencapai keseimbangan baru melalui proses fisika-kimia yang logis. Kenapa gak kita sebut Sabda Alam? Kenapa kok secara ‘kurang ajar’ kita sebut bencana?”.

_20171129_220104.JPG
Sumber gambar : IG resmi Sudjiwo Tedjo

Saya memahami pernyataan Mbah Jo tentang sabda alam sebagai sebuah proses dialektika antara kita manusia dengan alam. Karena jika kita menyebutnya bencana, kata tersebut cenderung negatif. Sebagai contoh adalah erupsi gunung. Memang ketika masih erupsi cukup membuat banyak orang menjadi kikuk. Akan tetapi setelah semuanya selesai, abu tersebut akan mengendap dan juga menambah kesuburan tanah sekitarnya. Tentu hal ini akan sangat menguntungkan masyarakat yang tinggal di sekitar kaki gunung.

Saya teringat ketika gunung Kelud meletus, material yang disemburkan oleh gunung Kelud kan juga ada yang berupa pasir. Hal ini menjadi sumber rejeki masyarakat yang terkena dampak letusan gunung, karena pasir tersebut kemudian dapat di jual dan menjadi material untuk pembangunan. Cerita ini saya dapatkan dari seorang teman yang juga mendapat imbas positif dari letusan gunung Kelud.

Kita tidak bisa menghentikan letusan gunung. Karena hal ini menjadi bagian dari recovery alam. Maksudnya, bisa jadi pada saat itu kondisi tanah disekitarnya sedang mengalami penurunan kualitas. Namun dengan adanya material yang disemburkan oleh gunung tersebut dapat meningkatkan kualitas tanah. Toh sebelum gunung menyemburkan abu, gunung memberikan tanda-tandanya terlebih dahulu sebelum benar-benar meletus. Agar masyarakat yang tinggal disekitar kaki gunung segera berkemas untuk menjauh dari lokasi sejenak sampai si gunung selesai menyemburkan abunya.

Selain itu, terjadinya banjir dan juga tanah longsor menjadi sebuah teguran bagi kita agar kita lebih menyayangi alam semesta. Ada banyak hal yang menjadi penyebab terjadinya banjir dan tanah longsor, seperti sikap manusia yang membuang sampah sembarangan, adanya penebangan pohon dan lain sebagainya. Mungkin dengan terjadinya banjir, tanah longsor dan lain sebagainya adalah bentuk ajakan alam untuk berdialog mengenai bagaimana caranya agar manusia yang bersuaka dengan alam sebagai penyedia suaka dapat berdampingan secara selaras. Pastinya semua ini adalah kehendak Tuhan. Akan tetapi dibalik itu semua pasti ada hikmahnya untuk kita semua, baik yang terdampak ataupun yang tidak terdapat. Dimana agar kita selalu senantiasa menjaga romantisme kita dengan alam, manusia dan tentunya kepada Tuhan.

Semoga yang terkena banjir, tanah longsor, angin topan, erupsi gunung selalu diberikan kesehatan, ketabahan, ketegaran dan juga keberkahan dariNya. Aammiin..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s