Kelayapan

Taman Sebagai Ruang Inklusif Masyarakat dan Bertemunya Berbagai Komunitas

IMG_20171029_080331.jpg

Taman menjadi tempat yang menyenangkan untuk dikunjungi. Selain karena terdapat banyak tanaman dan pepohonan yang rindang, juga karena terdapatnya area untuk berinteraksi seperti playground untuk anak-anak, ruang terbuka untuk berolahraga ataupun ruang terbuka yang dimanfaatkan untuk berkumpulnya berbagai komunitas.

Selama hampir 2 bulan tinggal di Sidoarjo, saya sudah 2 kali mengunjungi alun-alun Sidoarjo di hari minggu pagi. Ada banyak sekali kegiatan yang terjadi di alun-alun tersebut. Baik yang dilakukan oleh kelompok kecil (keluarga) ataupun komunitas. Happy banget setiap kali ke sini karena selain tempatnya yang rindang juga ada banyak kegiatan yang inspiratif dan memberikan saya ide-ide entah untuk menulis ataupun ide untuk family project di masa mendatang. Inilah yang saya maksud dengan jalan-jalan receh yang hemat banget di kantong tapi tetap bikin happy.

Kegiatan Yang Terjadi di Alun-Alun Sidoarjo

Ada berbagai macam kegiatan yang terjadi di alun-alun Sidoarjo seperti senam pagi, atraksi BMX, Sidoarjo Street Drum, Teras Baca Kotaku, olahraga, bermain, dan masih banyak kegiatan menyenangkan lainnya.

IMG_20171029_060534.jpg

Dari semua kegiatan yang diadakan oleh komunitas di alun-alun tersebut, yang paling menarik perhatian saya pastinya Teras Baca Kotaku. Teras Baca Kotaku ini kalo saya liat-liat tidak hanya sekedar kegiatan membaca yang disediakan oleh Bait Kata Library, namun disana ada konsultasi psikologi, ada kegiatan bermain karena disediakan beberapa alat bermain, diskusi tentang berbagai tema (minggu kemarin saya kesana membahas tentang pencegahan kekerasan seks terhadap anak), dan masih banyak lagi.

IMG_20171119_073519.jpg

Ah, selain itu juga ada tukang cukur lho disana yang diadakan oleh street barber. Lokasi tukang cukurnya dalam satu area dengan teras baca kotaku. Soal hasil cukurnya kalo saya tilik-tilik bagus sih sekelas barber shop gitu, karena yang nyukurin juga masih muda.

Taman Sebagai Ruang Inklusif dan Bertemunya Berbagai Komunitas

Selama saya mengunjungi beberapa taman seperti alun-alun Kota Batu, alun-alun Kota Malang, Taman Bungkul, Taman Surya, Taman (hhmm..) apa ya namanya yang diseberang stadion 10 Nopember? Lupa (ahahha). Alun-alun Sidoarjo salah satu taman yang memiliki banyak kegiatan komunitas di dalamnya. Dan kegiatan komunitas di alun-alun Sidoarjo menurut saya kece banget, keren banget, inspiratif banget, beragam dan bisa dinikmati oleh berbagai kalangan.

Dengan adanya komunitas-komunitas tersebut sebenarnya dapat menimbulkan suasana yang inklusif bagi masyarakat yang berkunjung. Inklusif itu kan tidak harus perihal mengenal satu sama lain, tapi inklusif itu juga tentang terciptanya rasa aman dan nyaman pada sebuah lingkungan.

IMG_20171029_060420

Sebagai contoh Teras Baca Kotaku. Komunitas ini tidak hanya sekedar menyediakan buku-buku untuk dapat dibaca oleh pengunjung alun-alun. Namun juga mengadakan kegiatan diskusi, membuka konsultasi psikologi dan juga melakukan kolaborasi dengan komunitas lainnya seperti Sidoarjo Drum Street dan TheaterGedhek Sidoarjo. To be honest, saya tidak benar-benar tau bagaimana awal mulanya kolaborasi ini terbentuk. Karena saya pribadi adalah pendatang disini. Akan tetapi, menurut hipotesis saya adalah kolaborasi ini terbentuk salah satunya karena kegiatan tersebut secara rutin dilakukan di alun-alun. Tapi yang pasti, keberadaan komunitas ini sangat edukatif bagi pengunjung alun-alun.

Keberadaan taman memang sangat penting di kawasan perkotaan, mengingat lahan perkotaan sudah semakin sempit karena di dominasi oleh bangunan. Selain sebagai ruang terbuka hijau, ruang berkumpul bagi keluarga, juga menjadi ruang untuk bertemunya para komunitas. Dengan bertemunya berbagai komunitas dalam ruang terbuka sebenarnya dapat memberikan kesempatan adanya kolaborasi antar komunitas. Dengan demikian akan tercipta kegiatan-kegiatan rutin mingguan yang dapat dinikmati oleh masyarakat.

Aha, saya jadi ingat dengan bukunya Walter Issacson yang berjudul The Innovator. Pada sebuah bab yang saya lupa di bab berapa, yang pasti pada bab tersebut bercerita tentang desain kampus yang saling menghubungkan antar jurusan. Hal ini dilakukan agar dengan bertemunya mahasiswa dari berbagai jurusan dapat terjadi interaksi yang akan memunculkan berbagai ide untuk kemajuan teknologi. Begitu juga dengan adanya sebuah taman. Taman diadakan tidak hanya sekedar sebagai ruang terbuka hijau, namun juga menjadi ruang berkegiatan bagi masyarakat. Dengan adanya berbagai kegiatan dari berbagai komunitas yang ada disana diharapkan dapat membentuk adanya kolaborasi dan memunculkan berbagai ide-ide yang dapat bermanfaat bagi masyarakat luas ya.

Semoga saja tingginya pembangunan bangunan komersial tidak akan pernah menggerus ruang terbuka hijau diperkotaan. Karena keberadaan taman kota menjadi tempat rekreasi yang sangat murah bagi masyarakat dan juga sebagai ruang berkumpulnya berbagai komunitas di kota tersebut.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s