Bunda Sayang · Uncategorized

Game Level 5 : Titik Balik by Rani R. Moediarta #3

12

Masih tenggelam dengan kisah Rani yang masih dalam proses pencarian jati dirinya di Pulau Kepa, NTT.

Semakin membaca novel ini bener-bener membuat pikiran saya bercabang ke 5 orang, Jalaluddin Rumi, Cak Nun, Adjie Santosoputro, Sudjiwo Tedjo dan juga seorang teman saya. Banyak dari kisah perjalanan pencarian jati diri dari Rani bener-bener related dengan 4 orang pertama yang saya sebutkan dan juga diskusi-diskusi saya dengan seorang teman saya tersebut.

******

Pencarian Jati Diri ke Dalam Rahim Penciptaan

Perjalanan pencarian jati diri seorang Rani ke dalam rahim penciptaan sebenernya bagi saya berat banget untuk saya pahami dan tentukan polanya.  Ketika berbicara pola jadi keinget bahasan polanya si Sudjiwo Tejo yang rumit banget. Menentukan sebuah pola dalam kehidupan ini bagi saya memang nggak mudah, tapi bagaimanapun butuh latihan. Nah, istiqomah latihan ini lho yang nggak gampang. Emang dasar saya nya aja sih yang masih menyediakan ruang malas dalam diri saya.

Saya mencoba untuk memahami isi buku ini walaupun harus benar-benar secara pelan-pelan agar bisa tertelan dengan baik.

Bahasannya hampir sama seperti kemarin yaitu segala sesuatu yang kita lihat dengan pancaindera kita ini sesungguhnya sangat relatif. Sehingga persepsi antara kita dengan orang lain terhadap sesuatu itu memiliki kecenderungan berbalik arah. Oleh karenanya, tidak jarang perselisihan itu terjadi karena tidak adanya keselarasan dalam diri kita antara pikiran dan perasaan kita.

Sehingga dalam novel ini, Avatar mengajak Rani untuk benar-benar kembali ‘pulang’ ke dalam dirinya sendiri. Sesungguhnya segala hal negatif dalam diri kita itu adalah karena kita mengundang sendiri perasaan-perasaan tersebut. Ibarat seorang pengguna narkoba, sebenarnya mereka menjadi kecanduan adalah karena perasaan mereka sendiri. Mereka sendirilah yang mengundang perasaan ingin mengkonsumsi tersebut ke dalam pikiran dan hati mereka. Mereka melakukan pembenaran diri dengan melontarkan dalih ‘jika tidak mengkonsumsi maka matilah aku’. Oleh karenanya kecanduanpun terjadi.

Segala apa yang tertangkap oleh pancaindera kita selalu ada dualitas. Untuk menghindari dualitas tersebut maka kita perlu untuk hadir utuh terhadap diri sendiri dan mencoba untuk kembali ‘pulang’ terhadap diri kita sendiri. Sehingga pada akhirnya adalah kita tidak akan terjebak pada sebuah paradoks melainkan yang kita lihat adalah hakikat dari sesuatu.

Makanya hal terbaik yang harus kita lakukan adalah memasrahkan diri kepada Tuhan, Sang Maha Pencipta dan Yang Maha Benar. Maksudnya pasrah bukan berarti kita tidak melakukan apa-apa, melainkan kita tetap berusaha untuk menjalani hidup sebagaimana kehendakNya dengan harapan kita tidak akan terperangkap dalam sebuah paradoks.

Kembali ‘pulang’ ke dalam diri sendiri adalah sebuah cara untuk menenangkan jiwa dan pikiran kita, dan agar kita lebih banyak berucap syukur. Dengan menemukan sisi paling esensial pada diri kita, kita akan terhindar dari tindakan pembenaran diri maupun pengkhianatan terhadap diri sendiri.

******

Cinta vs Takut

Dalam novel ini diterangkan bahwa sisi paling positif dalam diri manusia adalah rasa cinta. Sedangkan sisi paling negatif dalam diri manusia adalah rasa takut. Jika kita mengaktifkan rasa cinta pada diri kita, membiarkan kita dalam energi yang positif, maka kita juga akan mengundang energi-energi positif tersebut ke dalam diri kita. Dengan demikian kita akan lebih mudah untuk berlapang dada dalam menghadapi kehidupan, kita akan lebih mudah berkasih sayang kepada setiap makhluk di bumi dan juga alam.

Namun jika kita mengaktifkan energi negatif dalam diri, maka kita akan mengundang rasa takut terhadap kejadian kelam masa lalu yang berimbas pada diri kita sekarang dan juga masa depan.

Dan dengan mengaktifkan energi positif dalam diri, kita akan memandang segala sesuatu dengan cara yang positif tanpa melontarkan judgement buruk terhadap sesuatu. Dengan energi positif dalam diri kita, akan menimbulkan resonansi yang akan memberikan getaran positif juga kepada lingkungan.

Memang tidak mudah, justru itu tantangannya. Istiqomah dijadikan seperti menapaki gunung. Untuk mencapai puncak akan kita lalui berbagai macam rintangan. Tinggal gimana kita menghadapi rintangan tersebut dengan cara yang positif agar kita tidak terjerembab ke dalam jurang.

Semoga Allah selalu memberikan kita petunjuk jalan yang lurus. Aammiinn..

******

Ah, btw, saya lebih sering melakukan game stimulasi membaca ini sendiri. Sedangkan si mas baru sekali aja. Tapi saya tidak terlalu mempermasalahkan. Karena saya yang baca, lalu saya diskusikan ke si mas. Yang penting bagi saya adalah apa yang saya dapatkan tidak saya simpan sendiri namun juga saya diskusikan dengan pasangan saya agar kita bisa sama-sama menjadi insan yang lebih baik lagi. Aamiinn..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s