Bunda Sayang

Game Level 5 : Titik Balik by Rani R. Moediarta #2

11.jpg

Baca novel ini serasa seperti nonton FTV, tapi isinya cuma ngeliatin si Rani dan Avatar yang tenggelam dalam obrolan yang sangat dalam. Fiuh! Makin dibaca novel ini bener-bener kayak membaca kisah perjalanan hidup seorang sufi. Ibaratnya kayak diving makin di ayun kakinya makin dalem berenangnya (LOL).

Mungkin diawal-awal, cerita dalam buku ini agak sedikit membosankan. Wajar sih karena biasanya novel-novel fiksi emang kayak gitu. Akan tetapi semakin dibaca semakin terlihat makna yang ingin disampikan. Alur cerita pada novel ini terkesan maju mundur karena Rani dalam novel ini melakukan flashback tentang hidupnya. Dan ternyata dari flashback yang dia lakukan tersebut adalah dalam rangka untuk menemukan jaring-jaring kehidupan dimana antara masa lalu dan saat ini saling berhubungan, dan bahkan dengan masa depan.

Jujur, saya ngos-ngosan baca buku ini saking apa yang mereka obrolin bener-bener dalem banget, yaitu tentang kehidupan dan perjalanan menuju rahim penciptaan. Selama saya membaca dan mencoba memahami isinya, membuat saya mengulurkan cabang-cabang pikiran mengenai hal-hal yang pernah saya baca, saya dengar ataupun saya alami.

Isi cerita ini benar-benar mengajak saya pribadi ikut mencari hakikatnya hidup. Yah walaupun nggak gampang juga sih untuk menemukannya. Haha..

Berdasarkan lebih dari setengah buku yang sudah saya baca, intinya adalah saya sebagai pembaca diajak untuk melihat kehidupan ini pada yang hakikat. Bukan hanya sekedar pada apa yang ditangkap oleh pancaindera kita. Tapi pada suatu yang benar-benar jauh di dalam rahim penciptaan. Duh berat, euy!

Segala apapun yang terlihat oleh pancaindera kita itu terlalu relatif. Dan isi novel ini cukup related dengan tulisannya Rumi di buku Fihi Ma Fihi, dimana akan lebih baik jika kita memandang segala sesuatu pada hakikatnya agar tidak terjadi dualitas. Dan saya menyimpulkan jika kita mampu melihat kehidupan ini pada hakikat, maka kita tidak akan mudah untuk gumun dan tidak akan mudah juga untuk membenci.

Berat euy, tapi kudu tetep istiqomah untuk bisa merengkuh ridhoNya agar kita tetap ditunjukkan segala sesuatu sebagaimana adanya dan juga berjalan dijalanNya yang lurus. Aamiinn.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s