Bunda Sayang · Uncategorized

Game Level 5 : Fihi Ma Fihi by Jalaluddin Rumi (hal. 27 – 43)

2

Baca apa hari ini?

Hari ini saya baca buku Fihi Ma Fihi yang merupakan kumpulan ceramah dari Jalaluddin Rumi. Siapa sih yang tidak kenal dengan tokoh sufi satu ini? Seorang filsuf dan sastrawan besar yang sangat bijak. Dari buku Fihi Ma Fihi ini, saya hanya membaca 2 bab saja yaitu (1) Semua Terjadi Karena Kuasa Allah dan (2) Kata-Kata Hanya Perantara. I admit, tulisan-tulisannya Rumi bener-bener luar biasa. Kudu jadi sponge (ga pake bob) kalo pas lagi baca biar bener-bener bisa nyerap. Ada beberapa hal yang saya dapatkan dari membaca 2 bab buku ini yaitu kita tidak boleh terpatok pada persepsi pribadi dan juga dalam hidup, yang kita lihat adalah hakikatnya bukan pada apa yang tampak.

Jangan Terperangkap Persepsi Pribadi

Dalam bab pertama buku ini, Rumi menyampaikan sebuah kisah ketika Rasulullah dan pasukannya menang perang terhadap kaum kafir. Kisah ini disampaikan kepada Amir Barwanah dimana Ia memiliki semangat yang menggebu-gebu untuk mengorbankan dirinya hanya untuk Islam. Ia akan mengorbankan pikiran dan jiwanya untuk memperbanyak jumlah pemeluk Islam agar Islam tetap jaya dan aman. Akan tetapi, karena Ia terlalu percaya diri yang membuat Ia lupa akan Allah Yang Mahabenar.

Memang sih apa yang akan dilakukannya itu adalah untuk kebaikan Islam, tapi tanpa disadari Ia telah menjerumuskan dirinya kedalam kemaksiatan yaitu Ia berkoalisi dengan tentara Tartar. Ia juga memberikan bantuan kepada tentara Tartar untuk menghancurkan Syria dan Mesir yang juga merobohkan Daulah Islam.

Jadi dari kisah ini menunjukkan kepada kita bahwa kita jangan sampai terjerumus pada kepercayaan diri yang terlalu tinggi. Akan tetapi yang harus kita lakukan adalah merendahkan diri serendah-rendahnya kepada Allah, Tuhan Yang Mahabenar. Oleh karenanya Rumi mengatakan bahwa Allah adalah perekayasa yang cerdas. Dimana Allah mampu memperlihatkan sesuatu sebagai kebaikan, namun ternyata di dalamnya terdapat keburukan. Oleh karenanya kita tidak boleh tertipu pada apa yang tampak secara kasat mata dan kita harus menghindari diri dari pembenaran diri yang dapat menjerumuskan kita ke dalam kemaksiatan. Nauzubillah..

Oleh karenanya Rasulullah berdo’a :

“Perlihatkan kepadaku segala sesuatu sebagaimana adanya. Kaujadikan sesuatu tampak indah , tapi sejatinya sesuatu itu buruk. Kau jadikan sesuatu tampak buruk, tapi sejatinya sesuatu itu indah. Tampakkanlah segala sesuatu kepada kami secara hakiki hingga kami tidak terjerumus dalam kesyirikan dan tidak pernah tersesat selamanya”.

Nah dari hal tersebut hikmah yang bisa kita pelajari adalah kita tidak boleh terperangkap pada persepsi kita sendiri. Oleh karenanya Maulana Rumi berpesan agar kita merendahkan diri kita serendah-rendahnya di hadapan Allah dengan seikhlas-ikhlasnya. Semoga Allah selalu menuntun kita di jalanNya yang lurus. Aammiinn ya Allah..

Karena membaca bab ini juga saya teringat tentang diskusi saya dengan teman saya mengenai “percaya diri”. Waktu itu saya lagi mengalami panic attack menjelang preview tesis. Saya bilang sama teman saya itu kalo saya nggak percaya diri dengan hasil yang sudah saya kerjakan. Lalu teman saya membalas “wah dari kamu mengatakan percaya diri aja kamu sudah keliru. Kudunya bukan percaya kepada diri sendiri melainkan percaya kepada Allah”. Sekarang saya jadi paham maksudnya. Pelajaran lainnya yang saya dapat dari pengalaman pribadi saya tersebut dan dari tulisan Maulana Rumi ini adalah agar saya lebih bisa memaknai sebuah kata secara mendalam, bukan sekedar secara harfiah.

Mencari Hakikat

Baru sadar bab ini ada kaitannya dengan bab sebelumnya yaitu dimana kita tidak boleh tertipu pada apa yang kasat mata. Oleh karenanya judul bab kedua buku ini adalah kata-kata hanya perantara. Contohnya nih ketika kita melihat gambar pemandangan di instagram (misalnya). Keliatannya wah keren banget gitu. Eh pas kita dateng kesana ternyata biasa aja. Kaget kan kita dengan penampakan asli yang tidak sesuai dengan gambar yang kita liat? Atau contoh lainnya adalah ngeliat makanan yang keliatannya enak banget nih. Eh ternyata pas dimakan biasa aja rasanya, nggak seistimewa tampaknya.

Nah dalam bab ini Rumi ingin menunjukkan bahwa sesungguhnya yang menjadi daya tarik dari sesuatu itu hanya satu tapi tampaknya banyak. Oleh karenanya jangan sampai kita tertipu dengan yang tampak. Yang sesungguhnya dan seharusnya kita cari adalah hakikatnya. Makanya Rumi bilang kalo yang membuat kita tertarik adalah hakikat itu sendiri maka tidak ada yang lain dari hakikat tersebut.

Dalam bab ini Rumi memaparkan sebuah ayat Al-Qur’an yang artinya “Dan Kami menjadikan bilangan mereka hanya sebagai cobaan”. Disini Rumi menunjukkan bahwa seberapapun banyaknya yang tampak, sesungguhnya hanya satu yang menarik hasrat seseorang. Nah, oleh karenanya kita perlu untuk memperkaya pengetahuan kita agar kita bisa melihat hakikat dari segala sesuatu. Dengan demikian kita akan lebih mudah untuk melihat kebesaran Allah dan bersyukur pada setiap hal yang terjadi.

Dalam proses menemukan hakikat tersebut tidak mudah, oleh karenanya penting bagi kita untuk beristiqomah. Sekalipun beristiqomah itu juga tidak mudah, kita tidak boleh berputus asa terhadap setiap harapan kepada Allah. Karena harapan tersebut merupakan pangkal jalan keselamatan.

Begitulah pesan dari Maulana Rumi. Semoga Allah senantiasa mencurahkan keberkahanNya kepada kita semua dan selalu menunjukkan kepada kita kepada jalan yang lurus. Aammiinn ya Allah..

Btw, untuk hari kedua ini masih menjalani game sendirian karena si babang masih belum sanggup buat baca buku (LOL). Tapi nggak apa2 sih, ngerti juga karena dia pasti capek banget pas kerja. Jadi, saya yang baca buku dan saya sampaikan isi buku tersebut. Kemudian kita mendiskusikannya 🙂

 IMG_20171027_145322.jpg

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s