Bunda Sayang

Game Level 5 #1 : Hidup Itu Harus Pinter Ngegas dan Ngerem by Emha Ainun Najib (hal. 116-164)

Game Level 5 - Bunda Sayang(1).jpg

Bismillahirrohmaanirrohiim..

Untuk mengawali game level 5 kelas bunda sayang ini, saya memilih buku Cak Nun yang berjudul Hidup Itu Harus Pintar Ngegas dan Ngerem untuk saya baca terlebih dahulu. Sebelumnya saya pernah sih ngebahas isi buku ini di blog ini,tapi nggak semua karena memang belum selesai saya baca. Dan sekarang saya memilih buku tersebut untuk saya baca terlebih dahulu. Akan tetapi hari ini saya menjalani game level 5 ini sendiri dulu, karena si mamas kerja shift siang pulangnya malem sedangkan saya tadi pagi ke Surabaya dulu dan baru pulang siang. Maka jadilah saya baru mulai membaca malam ini.

Baca Juga : Lesson Learn From A Book : Hidup Itu Harus Pintar Ngegas Dan Ngerem

Hari ini saya membaca buku tersebut dari halaman 116 – 164 yang terdiri dari 4 bab yaitu 1. Jadi Manusia Dulu Baru Jadi Muslim; 2. Ridho Allah Dalam Mudzakkar dan Mu’annats; 3. Tafsir Matematis Dunia-Akhirat; dan 4. Kepemimpinan dan Kasih Sayang. Sebenarnya bab tentang Kepemimpinan dan Kasih Sayang masih belum selesai saya baca karena sudah ngantuk berat (LOL).

Apa aja sih yang saya pelajari dari membaca buku Cak Nun tersebut? Ada banyak pastinya dan semoga saya tidak salah tangkap tentang maksud Cak Nun yang beliau sampaikan pada tiap bait tulisannya. Menurut saya pribadi, dalam tulisannya ini Cak Nun mengajak saya untuk memaknai setiap kata, mentadabburi setiap kata. Sehingga ketika membaca sesuatu, kita tidak hanya sekedar menyimpulkan barisan kalimat tersebut. Tapi bagaimana kita juga memaknai sebuah kata. Oleh karenanya pada bab Kepemimpinan dan Kasih Sayang pada paragraf pertama beliau bilang “Perlakukan setiap kata itu sebagai pintu”. Saya pribadi mengartikan kalimat tersebut jika kita mampu menyelami makna kata, maka kita bisa membuka pintu yang mengantarkan kita pada luasnya ruang semesta yang tak bertepi ini. Dengan begitu juga kita bisa lebih bisa untuk melihat setiap tanda kebesaran Allah.

Bab yang paling mencuri perhatian saya adalah Tafsir Matematis Dunia-Akhirat. Pada bab tersebut CakNun mengingatkan kita tentang ‘untuk apa kita di dunia ini?’. Alhamdulillah kalo masih inget tujuan kita dilahirkan ke dunia ini adalah untuk menjadi khalifah di bumi. Oleh karenanya kita memiliki kewajiban untuk mengurus bumi ini. Memang betul ada Allah sebagai pemilik alam semesta ini, tapi bukan berarti kita sebagai penghuni bumi tidak memiliki kontribusi dalam mengurus bumi. Menjaga alamnya, menjaga hubungan dengan sesama manusia, berkasih sayang dengan makhluk lainnya. Ya kalo mau berkasih sayang dengan jin dan setan juga nggak apa-apa sih. Toh mereka juga bagian dari makhluk bumi kan ya (LOL). Karena kita semua ini adalah khalifah fill ardh di bumi ini, maka kita jangan sampailah menghabiskan seluruh hidup kita hanya untuk mengejar kesementaraan dunia.

Sadar banget lah ya kita kalo kehidupan di dunia ini hanya sementara, yang kekal adalah akhirat. Akan tetapi bukan berarti karena mengejar akhirat kita tidak memikirkan dunia juga. Karena bagaimanapun dunia ini adalah jembatan menuju ke akhirat. Jadi maksudnya pada setiap hal yang kita lakukan di dunia ini, kita niatkan untuk kebaikan akhirat. Bukan hanya sekedar keuntungan dunia semata. Oleh karenanya CakNun bilang di halaman 148 “jalan dan tujuan tidak boleh dibalik. Jangan sampai tujuan dijadikan jalan, jalan dijadikan tujuan.” Jadi jalan yang dimaksud itu adalah dunia, sedangkan tujuannya adalah akhirat.

Lalu dari sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Ad-Dailami dan Ibnu Asakir mengatakan “Dari Anas bin Malik ra, Rasulullah saw bersabda ‘Tidak baik bagi kalian meninggalkan urusan dunia untuk akhirat saja dan meninggalkan urusan akhirat demi dunia semata sampai memperoleh keduanya. Sesungguhnya dunia adalah jembatan menuju akhirat dan janganlah kamu menjadi beban bagi orang lain”. Jelas banget sih ya bahwa kita tidak bisa memilih salah satunya karena bagaimanapun keduanya akan kita tapaki. Namun bukan berarti membedakan keduanya juga dan melakukan sesuatu hanya untuk dunia saja ataupun untuk akhirat saja. Jadi maksudnya begini, contohnya adalah sekolah, sekolah itu secara kasat mata memang terkesan pekerjaan dunia namun bukan berarti nggak ada nilai akhirat juga. Kalau misalnya kita sekolah diniatkan untuk ibadah, insyaa Allah akan memberikan dampak untuk kebaikan akhirat kita. Jadi perwujudan sekolah untuk kebaikan akhirat dilihat dari tingkah laku dan tanggung jawab kita sebagai manusia.

Tujuan kita sekolah itu kan untuk mengembangkan diri kan ya, untuk memperluas pengetahuan kita. Sehingga, sebagai orang yang berilmu tentunya kita harus bisa bersikap sebagai manusia yang sebenar-benarnya manusia. Nah wujud pertanggungjawaban kita sebagai orang yang berilmu kita tunjukkan dari cara kita memperlakukan sesama manusia kita, memperlakukan alam dan juga memperlakukan makhluk Allah lainnya. Kesemua itu akan memberikan dampak untuk akhirat kita. Gitu ceritanya. Makanya kenapa bab ‘Jadi Manusia Dulu Baru Jadi Muslim’ terlebih dahulu dibahas, agar kita bener-bener menyadari eksistensi kita sebagai manusia di bumi ini.

Lalu kenapa judul bab ini matematis dunia-akhirat? Jadi matematika itu adalah ilmu yang paling jujur. Contoh aja nih 2 x 3 = 6. Jawabannya mutlak udah nggak bisa diubah-ubah. Jadi maknanya adalah secara matematis, kita hidup didunia ini harus jujur demi kebaikan akhirat kita. Kita melihat dunia ini dari sisi ilmu matematika bukannya untuk itung-itungan. Nggak laah. Kalo misalnya kita melihat matematika hanya sekedar secara harfiah, bakalan jadi repot deh. Dikit-dikit itung-itungan dengan setiap hal yang dikerjakan di dunia. Kan nggak ikhlas namanya. Nah jadi matematika yang dimaksud disini adalah kemurnian dan kejujuran dari ilmu tersebut dimana kita hidup didunia ini harus jujur dan ridho atas setiap kehendakNya.

Semoga Allah selalu membimbing kita di jalan yang lurus dan yang penuh dengan keberkahanNya. Aaamiinn..

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s