Kontemplasi

Mimpi Juga Tentang Niatan

Siang tadi saya membeli bukunya Cak Nun yang berjudul “Hidup Itu Harus Pintar Ngegas dan Ngerem”. Buku tersebut baru saya baca sampai halaman 84. Isi dari buku tersebut mengingatkan saya tentang tema menulis rumbel nulis Kaltimra, yaitu tentang “mimpi”. Ketika kita mengimpikan sesuatu untuk masa depan, pasti memiliki orientasi utama. Entah kebermanfaatan, eksistensi diri, atau mungkin uang.

Aspek kebermanfaatan dalam sebuah impian pasti ada, namun apakah aspek tersebut menjadi yang utama?

Betul memang, kita tidak boleh meremehkan sebuah impian karena Allah Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan. Bahkan semesta ikut serta berkonspirasi untuk mewujudkan impian kita tersebut. Akan tetapi, sudahkan niat kita untuk mewujudkan impian tersebut tertuju hanya pada Sang Pencipta dan dirasakan manfaatnya oleh manusia dan semesta? Atau mungkin impian tersebut hanya sekedar untuk eksistensi diri agar dipuja dan atau hanya sekedar untuk mendapatkan keuntungan materi? Setiap orang pasti memiliki orientasi utamanya sendiri-sendiri.

Saya tidak dalam rangka menyalahkan seseorang yang money-oriented atau mengejar eksistensi misalnya. Memang betul hidup butuh uang, segalanya perlu uang. Tapi uang bukan segalanya. Dan diri kita memang perlu diketahui oleh banyak orang. Akan tetapi bukan itu tujuan utamanya. Jika hidup kita dari Allah untuk Allah. Maka apa yang kita cita-citakan juga seharusnya untuk Allah.

Ada quote yang sangat saya suka dari buku Cak Nun tersebut yaitu :

Kalau kamu ingin kreatif, jangan menomorsatukan eksistensimu. Kalau kamu ingin menonjolkan dirimu nanti akan jadi sesuatu yang memuakkan hati orang. Kalau engkau ingin kreatif, ingin diberi hidayah oleh Allah, pekerjaanmu hanya satu; beribadah. Ibadah itu mengabdi. Mengabdi itu melayani (Hal.34).

Kalimat di atas pastinya tidak bisa hanya sekedar dibaca sekilas karena sebenarnya memiliki makna yang mendalam. Namun saya setuju dengan apa yang dikatakan oleh Cak Nun tersebut. Jangan sampai kita salah niat, karena salah niat akan berbahaya untuk diri kita sendiri. Setiap niat, setiap tindakan pastinya memiliki pertanggungjawaban. Oleh karenya kita perlu berhati-hati dalam mengorientasikan cita-cita kita.

Saya pun memiliki banyak impian atau cita-cita, salah satunya adalah membuat komunitas belajar bersama anak-anak kecil. Karena membaca buku si Cacak tuh membuat saya berpikir, sudahkah saya meniatkan cita-cita tersebut untuk sepenuhnya menghamba kepadaNya dengan cara memberikan kebermanfaatan pada sesama? Atau saya hanya ingin terkenal nantinya? Nauzubillah

Antara orientasi, A, B, atau C sangatlah tipis dan dapat membentuk bias. Oleh karenanya kita perlu merendahkan diri serendah-rendahnya dihadapanNya agar penghambaan sepenuhnya hanya padaNya, bukan pada nafsu sesaat. Sehingga apa yang kita impikan untuk diwujudkan semata-mata hanya untuk Allah Azza wa Jalla.

Huh, membaca buku ini benar-benar membuat saya betah berlama-lama dalam ruang sunyi kontemplasi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s