Kontemplasi

Memaafkan Pendosa

Dosa? Siapa yang tidak tahu tentang dosa? Ya, hanya anak bayi, balita dan batita yang masih belum mengenal dosa. Kenapa dosa tercipta jika hanya mencipta ruang dalam neraka? Kenapa Tuhan tidak memberikan pahala agar seluruh manusia masuk surga?

Tuan, Puan, ini dunia. Tempat dimana segala tantangan diberikan untuk menguji keimanan, ketaatan, kesetiaan kepada Sang Pencipta. Jika iblis dan setan tak diijinkan untuk hidup berbaur dengan manusia, apakah kehidupan dunia akan tetap ada? Bisa saja jika Tuhan mau. Karena Tuhan memiliki kekuatan Maha Dahsyat untuk melakukannya. Tapi jika tidak ada dinamika dan romantikanya, untuk apa dunia tercipta? Cukuplah surga jika hanya demikian adanya.

Adakah manusia yang tak berdosa? Ya, bayi, balita, batita dan anak yang belum baligh memang belum menanggung dosanya. Namun adakah orang dewasa tidak berdosa? Bahkan seorang yang dianggap alim pun pasti pernah berdosa. Entah di masa lalunya, atau entah. 

Bisakah dosa ditiadakan? Bisa jika Tuhan menarik seluruh jin dan setan dari muka bumi dan menjadikan setiap perbuatan bernilai pahala. Tapi rasanya mustahil. Bahkan untuk mencapai puncak sebuah gunung butuh perjuangan untuk melewati segala tantangan. Tidak sedikit godaan yang merayu ketika menapakinya. Pun kehidupan dunia, penuh tantangan dan godaan. Antara setia kepada perintah Tuhan atau mengikuti rayuan setan. Dosa sebagai bagian dari bumbu tantangan kehidupan dunia.

Hidup bergelimang dosa memang tidak pernah enak. Mungkin menjadi enak jika om iblis dan setan lebih merajai qolbu dan menciptakan jarak dengan Tuhan. Tapi, apakah kita harus jijik dengan perbuatan dosa orang lain? Jangan! Sadarilah bahwa kita sendiripun masih sering berbuat dosa. Entah yang terimplementasi melalui sikap, terucap dalam kata, atau terpatri dalam pikiran.

Berbuat dosa bukan hal wajar, tidak juga manusiawi. Harus dihindari walaupun tidak mudah. Tapi, ketika kita melihat perbuatan buruk seseorang, jadikanlah itu menjadi pembelajaran. Bawalah itu kedalam ruang kontemplasi kita masing-masing sebagai bahan dialektika dengan diri, semesta dan Tuhan. Hal ini adalah untuk menghindari diri untuk memberikan penilaian terlalu berlebih kepada sesama. Tuhan saja masih memberikan ruang maaf bagi kita para pendosa. Kenapa kita sesama manusia tidak melakukan hal yang sama?

Membuang spasi antara kita dan kebijaksanaan memang tidaklah mudah. Namun, mengingat baiknya Tuhan pada hambaNya dapat menggugurkan segala prasangka. Insyaa Allah..

Advertisements

2 thoughts on “Memaafkan Pendosa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s