Bunda Sayang

Game Level 4 #2 IIP Bunsay : Mengidentifikasi Gaya Belajar

Hmmm hmmm hmmmm..

Saya agak bingung harus mengerjakan game level 4 ini seperti apa. Tugasnya memang mudah yaitu mengenali gaya belajar sendiri, namun untuk mengerjakannya tidak mudah (bagi saya).

Iseng-iseng buka materi kelas matrikulasi dulu membuat saya teringat dengan salah satu bukunya Ayah Edy yang saya lupa judulnya namun berkaitan dengan mencari cara belajar anak.

Jadi dalam mengidentifikasi gaya belajar anak juga perlu mengidentifikasi kepribadian anak. Jadi, cara menciptakan atmosfir kegiatan belajar yang seru adalah dengan mengidentifikasikan kepribadian anak.

Saya terlahir dengan kepribadian sanguinis-melankolis sehingga kadang saya butuh suasana rada hingar untuk belajar. Namun terkadang juga butuh suasana yang hening agar bisa lebih konsentrasi.

Melihat indikator gaya belajar berdasarkan aspek auditory, kinestetik ataupun visual pada materi 4 kelas bunsay, saya agak bingung menentukan saya di posisi yang mana. Sebelumnya memang saya sudah mencantumkan bahwa saya lebih ke kinestetik namun juga terkadang visual. Tapi ada auditory nya juga sih. Namun hanya pada hal-hal tertentu.

Sejujurnya, saya adalah orang yang nggak bisa diem. Jadi ketika di dalam kelas seringkali merasa bosan mendengarkan guru saya cuap-cuap. Bahkan hal ini kebawa hingga kerja. Dulu pas saya kerja, ketika saya merasa sangat suntuk di kantor, saya sering pergi ke lapangan untuk mengecek progress di lapangan dan atau hanya sekedar ngobrol santai dengan para tukang atau mandor. Sebenarnya saya nggak boleh terlalu sering ke lapangan oleh boss saya. Tapi saya sangat bosan mengerjakan di dalam ruang kantor. Rasanya penat. Kalau langsung ke lapangan kan jadi lebih tau cara membangun rumah dari bawah sampai atas. Gimana caranya pasang kuda-kuda, dsb.

Dari sisi auditory, mungkin saya agak bosen ketika mendengarkan guru mengajar. Tapi kalau urusan ngapalin lirik lagu mah tokceerr. Jadi nggeser topiknya. Maap maap. Tapi pada hal-hal tertentu sisi auditory pada diri saya cukup berperan. Walaupun nggak besar. Apa mungkin karena auditory sy rendah jadinya kalo di nasehati masuk telinga kanan keluar telinga kiri? Duh duh…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s